Review Buku Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis - Paulo Coelho
Baru saja selesai membaca sebuah buku yang menarik. By The River Piedra I Sat Down and Wept. Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis, karya Paulo Coelho. Ya, Paulo Coelho, pengarang buku The Alchemist. Jujur saja buku The Alchemist atau Sang Alkemis merupakan sebuah buku yang bisa dibilang membuat saya kembali percaya akan impian-impian. Membuat saya kembali akan bagaimana caranya bermimpi dan memberanikan diri untuk menggapainya. Membuat saya yakin bahwa sesuatu yang tidak pasti itu memang harus diambil untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Membuat saya semakin yakin untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti. Atau bisa dibilang belum pasti. Beresiko. Bahkan beresiko sangat tinggi.
Namun di yang baru saja selesai saya baca ini saya menemukan beberapa hal yang menarik. Sudut pandang orang pertama yang diceritakan berbeda dengan Sang Alkemis karena tokoh utama kali ini adalah seorang wanita. Satu hal yang saya cermati dari sang tokoh utama, saya merasa ada sedikit kemiripan dengan pemikirannya mengenai agama dan Tuhan. Walaupun agama yang dia maksud berbeda dengan saya. Sang wanita pada awal cerita diceritakan sedang mengalami masa kegalauan akan imannya. Dia merasa doktrin-doktrin Katholik yang diajarkan padanya semasa kecil seolah membatasi dunianya. Yap. Cerita ini memang kemudian menceritakan bagaimana perjalanan sang wanita mendapatkan kembali keimanannya. Yang unik dari perjalanan ini adalah keterlibatan seorang teman masa kecilnya yang juga cinta pertamanya. Teman masa kecilnya tersebut pada suatu hari telah memutuskan masuk ke seminari, untuk mengabdi sepenuhnya pada Tuhan. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan gejolak batin sang tokoh wanita yang bernama Pilar. Pilar merasa bahwa pemuda taat yang dicintainya ini lebih mencintai gereja dan Tuhannya sehingga Pilar sendiri ragu ketika pemuda tersebut menyatakan cinta kepadanya. Well... Kurang lebih seperti itulah ceritanya. Perjalanan berliku yang menceritakan bagaimana cinta dua insan dan cinta kepada Tuhan pada akhirnya menemukan sebuah titik cerah. Titik damai. Dimana keduanya akhirnya dapat saling mengerti satu sama lainnya. Saya sendiri kurang mengerti mengenai bagian-bagian yang menceritakan mengenai gereja, ayat-ayat Injil, Bunda Maria dan istilah-istilah Katholik lainnya. Tetapi menurut saya bagian-bagian tersebut tidak perlu diambil pusing bagi pembaca dengan keyakinan yang berbeda karena tidak terlalu berpengaruh dengan alur ceritanya. Tidak ada kalimat yang menyinggung mengenai siapa yang paling benar maupun apa yang paling benar. Walaupun dalam satu bagian saya membaca bahwa sebenarnya si tokoh pemuda sepertinya dianggap memberontak dari ajarannya karena menganggap Tuhan memiliki sisi feminin. Ada juga bagian yang menurut saya sangat menarik.
Iman.
"Penganut Buddha benar, penganut Hindu benar, penganut Muslim benar, juga orang Yahudi. Setiap kali orang mengikuti jalan menurut iman-mengikutinya sepenuh hati-ia akan bersatu dengan Tuhan dan menciptakan mukjizat.
Saya masih memikirkan bagian tersebut dalam-dalam sampai saat ini.
Ttd.
Jin Botol
1:42 AM | Label: Bahasa Indonesia, Buku, Esai, Hobi, Opini, Paulo Coelho, Review, Slice of Life | 0 Comments
Early February
Yo. This time early February, I wanna share about my recent life. I just visited my high school teacher and I learned a lot in our conversation. Yeah, it's not about a light thing to discuss, but I really enjoy it. We talked about how the history that we've learn were not all absolutely true. About how the dogma of some religions were not to be truly trusted yet. It has many motivational message though. But now I feel really grateful because I ever had that talk. One thing to remember that, we need to be positive and focus on what we dream about. And also never give up about it. Haha.
Go on another day, I just think about what kind of resolution that I'll make this year. I'm nearly 20 now and I think I shall take more responsibility upon my life. I want to be a person who people can depend on. I want them to trust me. I want to make them happy. Especially for those who I labeled as special. I won't mention who are they, but I know they already realize that I treasure them. And so the world taste more different. It's changing every time. Sometimes it's sour, sometimes it's really sweet. But what can I do just taste it, and try to handle the taste and not get driven too far into it. I just realize that 'control' is the main term of 'grown up'. I have to take control of every emotions that lies inside of me. That love, anger, sadness... Just keep it myself til' I can find someone that I can really trust. But in fact, it's really hard to put my trust in someone. They're just human. The one who I trust the most is only God.
I also met a friend who study far from home. He really got some guts about his life. He just already learned how really the world is. The world which the vice and the virtue live together in harmony. He always has story to share, a words to cheer up their friends who nearly lose hope of life. He just never give up. And also, know where he stands. He knows where his place, and knowing the consequences of what he has done. He truly aware of it. And you know what? What just cross my mind...is that I should know where I will stand in the current term, and aware that things will not be like what I expected..if I'm not starting to change..from now on.
By the way, I also got my own stories. Beach camp, SEF, vacation, but I don't think I will share that for now. I'll keep it for later. Haha. So, just follow your curiosity here.
2:01 AM | Label: Artikel, Bahasa Inggris, Opini, Slice of Life | 0 Comments
New Era of My Dota 2 MMR
Yo.. Long time no see. Ini postingan pertama di tahun 2015. Yeay! Congrats, Man! Baiklah mungkin itu bukan suatu cara yang baik untuk menyelamati diri sendiri, taoi setidaknya saya memberikan penghargaan bagi diri saya agar bisa terus optomis untuk maju. (Halah.)
Yap. Masuk ke topik utama artikel ini. Ada kabar gembira karena sekarang Matchmaking Rating saya di game Dota 2 sudah mencapai 2000! Tepatnya 2024! Alhamdulillah. Yaaah.. Mungkin MMR segitu masih tergolong sangat cupu dibanding standar internasional pemain Dota 2 yang ada di kisaran 3000-an. Tetapi saya kira pencapaian meraih 2024 poin ini merupakan sebuah kemajuan beaar. Waktu perrama kali MMR saya keluar dalam calibrating games, rating saya hanya ada di kisaran 1500-an. (Sad ) Tentu saja saya menjadi bahan tertawaan dan korban bullying di net. Hahaha. Bahkan orang-orang menyarankan saya untuk membuat akun baru atau smurfing. Yeah.. I guess that's not a bad thing coz that will instantly new MMR which I believe will be around 2000. But seriously I can't do that. Menurutku hal tersebut akan menghilangkan bagian penting dari sebuah perkembangan, yaitu proses. Apa gunanya MMR saya tinggi tetapi terus kalah dan jatuh karena belum bisa mengimbangi kompetitor2 di level segitu. FYI, tiap ranked match yang menentukan naik turunnya MMR akan memberikan poin 24-26. Jadi kalau kalah bisa nambah 24-26 dan kalau kalah akan kehilangan segitu juga. Jadi menurut saya peningkatan saya juga bisa dikatakan bukan sesuatu yang mudah dilakukan. :v
Just so u know, terkadang bila maen di MMMR rendah tu temen setim kita bisa menjadi musuh dalam selimut. Mereka bisa menjadi beban bagi tim dan menghambat laju tim untuk menang. Apalagi orang Pinoy. Mereka begitu egois dan selalu menyalahkan tanpa introspeksi diri. (Sigh )
Yah.. Mungkin itu saja isi artikel kali ini. Memang topiknya ngga penting sih. Hanya bermain game. Tapi saya mendapat pelajaran berharga yaitu menghargai proses. Sekarang walaupunteman2 saya masih membully saya tetapi paling tidak saya telah membuktikan kepada mereka bahwa saya bukan seorang yang menyerah karena MMR rendah dan membiat akun baru agar bisa naik secara instan. Sorry, but I'm not that kind of quitter.
10:08 PM | Label: Artikel, Bahasa Indonesia, Dota 2, Game, Hobi, Opini, Slice of Life | 0 Comments
Tugas Akhir Semester
Yea daripada blog ini semakin menganggur lebih baik diisi sekarang lah walupun hanya sekedar sampah. Iya, sampah. Maksudnya isinya tidak begitu penting. haha.
Mungkin sekarang saya akan membahas tentang kesibukan saya belakangan ini.
Diantara kesibukan saya mungkin beberapa hal akan dianggap sampah oleh beberapa orang yang tidak memiliki cara pandang yang sama dengan saya. But that's okay though. Kesibukan saya belakangan tentu saja megerjakan tugas. Bukan bermaksud mengeluh sih karena kalo dibilang mengeluh tetepi saya sebenarnya menikmati sensasinya. H. Menjelang akhir semester 1 memang tugas kuliah mengenai paper sudah seperti bom waktu. Memang sih tugas ini semacam take home assignment sebagai pengganti tidak adanya ujian tertulis di kelas. Tetapi tentu saja daripada ujian tertulis di kelas tugas paper seperti ini akan memakan lebih banyak waktu dan tenaga. Well.. I don't mind it at all. Asalkan ada niatan yang kuat untuk menyelesaikan tugas tersebut pasti selesai deh. Sayang, seringkali ketika mengerjakan tugas jauh hari sebelum deadline otak seperti tidak mau bekerja sama. Justru ketika deadline semakin mepet ide-ide cemerlang muncul begitu saja. Yaah mungkin itulah yang disebut dengan the power of kepepet. Waktu PPSMB(ospek) universitas kemaren memang kita maba sudah diingatkan akan godaan menjadi deadliner. Tugas ospek sih sudah diumumkan satu bulan sebelum hari h buat dikummpulinnya. Nah dengan jangka waktu sebulan tersebut kita sebenarnya diharapkan agar bisa mengatur waktu kita agar tidak menjadi deadliner. Beberapa teman sih bisa melakukannya. Tapi bagi saya hal itu... bukannya sulit dilakukan sih, tetapi semacam belum ada niatan untuk ngerjainnya. Yaah mental menunda-nunda yang kebawa sejak sma. Lebih parah lagi deh sma karena ngmpulin tugas seringkali setelah deadline. haha. Pernah berhasil beberapa kesempatan sih nggak jadi deadliner, tapi itu cuma sementara aja. Semakin hari pikiran "ah waktunya belum tepat buat ngerjain. Mungkin butuh beberapa refreshing biar dapat inspirasi." Dan POOF. Terlena dalam kesibukan lain. xixixi
Yah seperti itulah cerita tentang tugas. Di samping tugas, kesibukan lain mungkin nonton anime sama main game. Memang sih keduanya jadi ternomor du dan tigakan gara-gara urusan kuliah. Tetapi tiap hari paling tidak kusempatin maen atau nonton 1 episode anime lah biar ga ketinggalan jalan ceritanya. Mungkin postingan selanjutnya akan saya bahas mengenai beberapa anime yang saya tonton dan beberapa game yang saya mainin. Yosh.. Mungkin segini dulu postingan hari ini semoga pengunjung blog ini semakin banyak dan bisa dapet google ad sense. Aamiin..
Salam
-R-
12:30 AM | Label: Artikel, Bahasa Indonesia, Opini, Slice of Life | 0 Comments
Tugas Review Fim tentang Gender
Lama tak ngepost. Yap. Tugas kuliah. Kali ini tugasnya cukup unik. Tugasnya cuma mereview film sih. Nggak unik. Tetapi film yang direview menurut saya unik. Judulnya 'Milk', bercerita tentang aktivis gay dari AS bernama Harvey Milk pada tahun 70an. Mungkin karena topik yang dibahas mengenai gender terus dipilih film ini yah :/ Yaah... mungkin review nya kurang detil karena ini adalah tugas yang harus dikumpul besok pagi. Haha karya seorang deadliner.
12:45 AM | Label: Artikel, Bahasa Indonesia, Film, Opini, Review, Tugas | 0 Comments
Share, Friend
Yeah, tentang blog ini. Tentang akan kuisi dengan tulisan apa. Entahlah. Mungkin tentang keseharian. Kegiatan-kegiatan dan semacamnya. Tapi kurasa tidak sampai perasaan-perasaan. I know that could be a boomerang that hits me twice, front and back. Sharing perasaaan memang bukan hal yang buruk. Hal itu mungkin dapat meringankan beban pikiran. Tapi juga dapat berbalik. Orang yang kita ceritain mungkin suatu saat akan meggunakan apa yang telah kita share dengan mereka sebagai suatu senjata. Oleh karena itulah menjaga suatu rahasia itu sangat penting. Bila memang tak perlu diceritakan atau mungkin bisa kita usahakan suatu masalah untuk diselesaikan sendiri kenapa diceritakan kepada orang lain? Justru akan membebani mereka kan? Mungkin lebih baik berusaha sekuat mungkin untuk menyelesaikannya sendiri walaupun sangat sakit dan berat, tapi kalau bisa kita selesaikan sendiri tentu menjadi suatu kelegaan karena kita tak perlu khawatir orang lain membocorkannya. Toh kita bisa bangga kepada diri kita sendiri dan mulai menghargainya karena diri kita kuat. Tapi jangan katakan kebanggaan itu kepada orang lain karena akan menjadi suatu kesombongan.
Yaaaah, tentu ada orang yang bisa kupercaya. Tentu orang itu bukan sembarang orang. Dia orang biasa. To be honest, I like sarcasm people. Because a true friend stab you in front. Coba bayangin, kalo ditusuk dari depan pasti kita lebih siap kan daripada stabbed from behind? I want a person who can talk what will I heard not what I want to heard.
Agak gak nyambung dan sinkron sih tulisan diatas haha. Semoga bermanfaat
12:23 AM | Label: Artikel, Opini | 0 Comments
Roller Coaster
Last few days my mood just like a roller coaster. I've got enormously glad, satisfied, relief with some seasoning of frustrating mental condition. I'm glad because I've bought a new modem. Satisfied because my national exam score isn't too bad, still can be tolerated. Relief because my responsibility for the search of ustadz was accomplished. And also I could participate in ODOJ (One Day One Juz), I've been read 18 juz so far.
Frustrating moment? I'm in really terrible financial condition right now. I want to buy road bike, dekstop pc, laptop, and many more. I was trying to hold my desire to buy some irritating useless stuff. But in many occasion I had to spend it or I won't survive. Sigh. I couldn't think well. I'm in a free condition despite preparing for the Ramadhan agenda.
But it's been so boring. I really want to work. At least I can get some money. Paying the internet connection is my main priority recently.
I can't believe just because my financial condition getting like this, it affecting so much aspect in my life. Physically and mentally.
Well... Then I search what money means. Googling for some quotes. Brainyquotes.com
Read more at http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_money.html#8A8iomGlR0jJAL8B.99
2:50 PM | Label: Artikel, Bahasa Inggris, Opini | 0 Comments
Esai Bahasa Indonesia-Mendidik Siswa Berbudi Luhur
10:41 PM | Label: Artikel, Bahasa Indonesia, Budaya, Esai, Opini | 0 Comments
Bermimpi Itu Halal
Impian. Suatu hal yang dapat menjadi pisau bermata dua. Jika tidak
tercapai akan sakit sekali. Tetapi akan terasa sangat menyenangkan
ketika impian itu tercapai. Hal ini berbanding lurus dengan usaha apa
yang telah kita lakukan. Bila kita sangat mengimpikan sesuatu tetapi
usahanya sedikit bahkan nol, maka rasanya akan sakit ketika gagal.
Itulah yang disebut 'terlalu bermimpi'. Tetapi sadarlah bahwa hal itu
malah benar dan lumrah. Kita terlalu mengimpikan sesuatu. Terlalu
mengimpikan saja. Sebaliknya apabila impian itu kita jadikan motivasi
atau dapat dikatakan cambuk pengontrol atas apa yang kita lakukan. Saat
kita melakukan sesuatu yang tak ada hubungannya atau bahkan malah
berlawanan atas apa yang kita impikan, maka akan kita tinggalkan karena
sang perngontrol itulah yang mengingatkan. Mungkin akan sakit dan tidak
terasa enak ketika belum terbiasa 'diingatkan' oleh sang pengontrol
tersebut. Tapi bila kita ingat dan tahu bahwa tujuannya baik, sudah
merupakan kemutlakan yang harus ditaati bila kita memang benar-benar
ingin menggapai impian tersebut. Yah, jadikan impian tersebut seperti
teman khayalan layaknya Yugi Mutou dan Atem. Alter ego.
Kesimpulannya,
setinggi apapun mimpi kita itu tidak mungkin salah. Asalkan usaha yang
kita lakukan maksimal dan optimal hasilnya. Membangkitkan fossil?
Menggabungkan hewan? Menciptakan naga? Menciptakan kota yang mengapung
di laut? Tak ada yang tak mungkin, Kawan. Sekonyol apapun impian kita
asalkan kita yakin dan Tuhan mengijinkan untuk mewujudkannya maka kita
bisa merasakan rasanya mengatakan "Shut the f- up!" kepada orang yang
dulunya menertawakan impian kita. Biarkan hidup kita berwarna-warni oleh mimpi kita. Tak perlu takut dan malu untuk bermimpi. Bermimpi itu halal.
2:52 PM | Label: Artikel, Opini | 0 Comments
Popular Posts
-
Yo.. Long time no see. Ini postingan pertama di tahun 2015. Yeay! Congrats, Man! Baiklah mungkin itu bukan suatu cara yang baik untuk menyel...
-
Mendidik Siswa Berbudi Luhur Belakangan ini tren budaya asing semakin menjadi-jadi di Indonesia. Semua golongan menyadari...
-
Baru saja selesai membaca sebuah buku yang menarik. By The River Piedra I Sat Down and Wept. Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis, k...
-
Impian. Suatu hal yang dapat menjadi pisau bermata dua. Jika tidak tercapai akan sakit sekali. Tetapi akan terasa sangat menyenangkan keti...
-
Yea daripada blog ini semakin menganggur lebih baik diisi sekarang lah walupun hanya sekedar sampah. Iya, sampah. Maksudnya isinya tidak beg...


